Resensi Novel - KAU
KAU,
Awan Yang Berbeda
Judul Buku : Kau
Pengarang : Sylvia L'Namira
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : vi + 206 hlm
Ukuran : 13 x 19 cm
Editor : Kinanti Atmarandy
Harga : Rp 38.000,00 ,-
Cinta
ini memang bisa terjadi kapan dan dimana saja. Bahkan mereka yang mengalaminya
tidak menyadari bahwa itu adalah cinta pada pandangan pertama.
Viola
Sembiring – gadis yang akrab dipanggil “Piyo”, adalah gadis unik penyuka gumpalan
awan. Bukan hanya sekedar menyukai, namun ia percaya atas pertanda yang
berbicara dari bentukan awan di langit. Bahkan kerap kali Piyo “berkonsultasi”
pada langit sebelum ia melakukan sesuatu. Dia pun mempunyai 3 buah topi rajut
dengan warna yang berbeda yang akan dipakai ketika Piyo telah mendapat jawaban
dari pertanyaan yang ditujukan kepada awan-awan di atas sana.
Sebagai
seorang anak muda yang baru saja merasakan dunia kerja, semangat Piyo sangat
tinggi. Keinginannya untuk meraih sukses di bidang jurnalistik sangat menjadi
fokus utamanya. Piyo merupakan reporter lapangan milik stasiun TV NTS yang
fokus meliput berita teraktual dari berbagai daerah di Indonesia. Kemana pun
ditugaskan, Piyo pantang menyerah. Meski terkadang apa yang ditugaskan atasannya
itu tidak masuk akal. Namun siapa sangka, melalui penugasan yang menyebalkan
itulah yang lambat laun menuntunnya untuk menemui sosok laki-laki tampan
bernama Igo – seorang pilot pesawat tempur.
Lelaki
inilah yang membuat jantung Piyo berdebar lebih kencang untuk kali pertama.
Meski terkesan dingin dan menyebalkan, nyatanya Igo lah orang pertama yang berhasil
menanggapi cerita-cerita Piyo tentang kesukaannya dengan baik – awan.
Sebelum
sempat mengenal pribadinya lebih jauh, Igo lantas menghilang. Musibah
menghancurkan telak perasaan Piyo dan tak urung membuatnya selalu menyesali
nasib. Cintanya kandas sebelum dimulai. Namun, Piyo selalu optimis dan tak
pernah berhenti mencari informasi mengenai satu-satunya lelaki yang memahami
kesukaannya pada awan. Inikah yang disbut cinta, cinta pada pandangan pertama?
Sederhana,
romantis, dan menghibur. Cinta memang memberikan sejuta warna bagi
penderitanya. Lebih dari itu, ada kekuatan besar yang diberikan oleh cinta pada
orang-orang yang tengah merasakannya. Dorongan atas kekuatan besar itulah yang
menjadi gambaran inti dari novel karya Sylvia L’Namira; Kau.
Bahasa
komunikatif dan alur indah yang mengalir begitu saja. Deskripsi dan gaya
penulisannya sangat menarik. Penulis menemukan aspek-aspek sederhana namun
berbeda dari setiap sudut pandang orang lain, terutama mengenai perjuangan
mengejar cinta sejati. Setting serta suasana pun terbangun dengan apik.
Terlihat jelas bahwa pernulis sangat detail mengumpulkan informasi demi
terciptanya nuansa yang indah.
Tetapi
ada yang sedikit mengganjal, yaitu perihal menghilangnya Igo atas kemauannya
sendiri demi melupakan Piyo. Penulis sama sekali tidak memberikan alasan
mengapa Igo melakukan hal itu. Mengenai bagaimana ia bisa selamat dari
kecelakaan waktu itu pun tidak dijabarkan, sehingga membuat pembaca masih
merasakan ada “ruang kosong” yang mestinya diisi. Intinya, ada ketidakpuasan
pembaca ketika menikmati keseluruhan cerita.
Namun, novel ini memberikan pembaca
sebuah daya imajinasi yang kuat layaknya sedang menonton film dan seolah-olah
dapat terjun ke dalam kehidupan Piyo. Hal seperti ini dikarenakan penggunaan
diksi yang tepat dan sesuai.
Novel karya Sylvia L’Namira ini
merupakan Juara Kedua 100% Roman Asli Indonesia yang diadakan oleh GagasMedia.
Membaca novel ini berarti memperoleh kesenangan yang tidak bisa didapatkan dari
novel lain. Dengan cerita yang tidak membosankan dan penyampaian yang asyik
membuat novel ini terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja. Serta, novel yang
layak dibaca oleh semua kalangan ini juga mengajak kita untuk berani berharap
ketika berada dalam keadaan putus asa.

Comments
Post a Comment