Dialektika dalam Diri

Sering lupa apa nama dan darimana asalnya
Kau persilahkan aku bersenandung bersama hujan, padahal langit cerah
Tanpa bertanya sebab dari akibat, aku mengiyakan dalam senja yang mengajarkan tentang keindahan sementara. Berujung padam

Sering lupa apa esensinya
Berusaha menjadi tenang di balik ribuan paradoks
Menolerir hitam seakan putih, dan bersikeras tegap tanpa tulang

Dari rasa yang terbiasa didatang-pergi-kan, tidak berdefinisi maupun berkategori.
Interaksi ini kau ciptakan untuk aku agar berpikir tentang eksistensi sebuah sensasi, apakah akan tinggal atau pergi lagi.
Pernah merindu meski di balik kelabu, sempat ingin mengadu tapi penuh ragu.

Sepertinya seperti biasa, akan aku biarkan ia korosi, entah sampai kapan.
Aku hanya ingin menyelesaikan rasa dengan cara yang tepat

Comments

Post a Comment

Popular Posts