Hear Me, Feel Me

"Aku dan kesunyian sudah seperti saudara. Bersama melewati masa, bersama telusuri senja.
Aku dan kesunyian sudah seperti satu darah. Dipupuk dan dibesarkan bersama.

Jadi bagaimana rasanya mendengar suara indah orang yang kau cintai?
Bolehkah aku merasakannya untuk sejenak saja?

- Sepenggal kalimat, Ratap Pukul Lima, AB -


Pagi itu aku berdiri di sudut kampus unguku, sambil sesekali menggerakkan tangan untuk menunjukkan arah, dengan senyum ramah tentunya. Minggu, 13 Mei 2018, aku dan teman-teman mengadakan Seminar & Kelas Kilat Bahasa Isyarat yang dihadiri oleh Surya Sahetapy, seorang aktivis Tuli. Mengapa dibuat acara ini? Tujuannya adalah untuk meningkatkan awareness terhadap mereka-yang-memiliki-keterbatasan (khususnya Teman Tuli), sekaligus mengedukasi masyarakat tentang bahasa isyarat.

Eh, kok "Tuli"? bukannya itu kasar ya? mending bilang tunarungu wey, ga sopan!

Hmm iyasih ya kayanya, tapi apa bener mereka lebih suka disebut tunarungu?
Menurut beberapa artikel yang pernah aku baca, mereka lebih senang dan nyaman kalau dipanggil Tuli (dengan huruf depan kapital) ketimbang tunarungu loh. Tuli diadopsi dari kata Deaf dalam bahasa Inggris, bukan hard of hearing (tunarungu). Nyatanya, istilah "tunarungu" justru berkesan lebih kasar bagi mereka. Dari segi makna kata, "tunarungu" dikaitkan dengan kondisi pendengaran yang rusak, juga tidak bisa berbicara, dan tidak normal. Bahkan ada yang menganggap itu sebagai penyakit sehingga perlu diperiksa dan dilakukan terapi-terapi lainnya agar bisa seperti 'orang normal' lainnya. Sedangkan sebagian Tuli tidak merasa bahwa kondisi mereka adalah sebuah kekurangan, mereka merasa normal.
Tuli dan Orang Dengar itu hanya tentang budaya yang berbeda, dimana Orang Dengar menggunakan bahasa suara untuk berkomunikasi, sedangkan Tuli menggunakan bahasa isyarat. Bahasa isyarat dan budaya Tuli ini merupakan identitas dan jati diri.

Ini salah satu artikel yang aku suka, bagus, dan sangat recommended buat dibaca: Sebut Saja Kami Tuli (Kumparannews).

Surya Sahetapy bersama pemateri dan moderator






Rasanya bahagia, lahir dan batin. Berkumpul bersama Teman Tuli dan Teman Dengar, belajar bahasa isyarat, bergurau satu sama lain, it was such a wonderful experience! Aku banyak belajar di hari itu, dan aku kagum dengan mereka. Mereka yang orang-orang bilang berbeda, yang orang-orang kata tak sama. Nyatanya Tuhan memang menciptakan kita dengan keunikan masing-masing, kan, setiap manusia adalah spesial, luar biasa, dan istimewa.

Terima kasih, team isyarat.co ðŸ’™

btw, terima kasih juga untuk tim riliv yang sudah datang meramaikan acara kami, juga makasih atas tulisan indahnya! sukaaaa!! (rilivstory - Seminar Bahasa Isyarat: Hear Me, Feel Me)


"I Love You"

Comments

Popular Posts